Jumat, 19 Desember 2014

"Kawaii, Kamera Selfie Cermin Casio"
Casio meluncurkan kamera digital terbaru untuk mendukung foto selfie, yakni Exilim EX-FR10 dan EX-MR1. Kedua freestyle kamera digital tersebut merupakan seri teranyar dari keluarga Exilim dengan fitur lebih mumpuni.

Rabu, 17 Desember 2014

Motorola Siapkan Ponsel Misterius nan Murah
Jakarta - Mau lebih menggarap Asia, Motorola disebut-sebut tengah menyiapkan ponsel misterius yang diyakini bakal mampu menggoda konsumen. Daya tariknya pun konon berada di harganya yang sangat terjangkau. Awalnya ponsel misterius tersebut dibuat untuk memikat konsumen China. Alasannya, karena perusahaan Amerika ini telah sejak lama menganaktirikan konsumen di Negeri Tirai Bambu dengan produk yang itu-itu saja tanpa kehadiran produk baru sejak lama. Tapi isu terbaru menyebut Motorola siap come back dengan produk misterius. Kembalinya Motorola menyeriusi pasar China sebenarnya tak lepas dari campur tangan Lenovo yang telah mengakuisisinya. Namun sejauh ini belum jelas produk seperti apa yang akan dirilis untuk pasar China. Informasi yang beredar menyebut kode pengembangan ponsel misterius itu adalah XT1079 dan XT1085. Sementara informasi lainnya hanya sebatas mengungkap soal dukungan teknologi 4G LTE yang akan diusungnya. Seperti detikINET kutip dari Phone Arena, Rabu (17/12/2014), spekulasi mengatakan salah satu dari kode pengembangan itu kemungkinan dimiliki oleh Moto E terbaru, yang konon akan dihargai lebih murah dari generasi Moto E yang saat ini beredar. Malah mungkin harganya bisa tembus di bawah Rp 1 juta, mengingat Moto E saat ini saja sudah dibanderol di angka Rp 1,2 juta. Selain kedua ponsel misterius tersebut, Motorola juga sangat mungkin bakal memboyong ponsel besutannya yang telah lebih dulu beredar untuk masuk pasar China. Antara lain adalah Moto X dan Moto G generasi kedua serta smartwatch Moto 360.
Microsoft: Windows Asli Bisa Berlubang, Kalau...
Jakarta - Pengguna Windows merasa bila sudah menggunakan software asli sudah pasti akan mendapatkan perlindungan secara berkala. Hal tersebut benar, namun bisa saja menjadi salah jika pengguna lengah. "Jadi gini, bila Windowsnya sudah asli tapi tidak diregristrasi (aktivasi), ya susah untuk mendapatkan perlindungan. Yang benar ya Windowsnya asli, dan sudah diregistrasi," kata Presiden Direktur Microsoft Indonesia Andreas Diantoro, di kantornya, Gedung Bursa EFek Jakarta, Rabu (17/12/2014). Andreas mengatakan bahwa saat ini ancaman cyber yang menyasar pengguna software bajakan semakin menjadi setelah mereka terhubung dengan internet. Karena serangan malware tak cuma menginfeksi komputer, namun juga mencuri informasi penting di dalamnya. Dia mengatakan setiap menggunakan internet, ada yang disebut dengan IP Address yang sama dengan alamat rumah. Dengan menggunakan software asli, IP Address pengguna akan terhubung dengan kantor pusat si pembuat software. "Dengan memakai software asli dan terhubung dengan internet, maka pemilik software akan memberikan perlindungan secara berkala dari serangan yang sering berubah-ubah setiap waktu," tambahnya. Pria yang mengaku besar di Yogyakarta ini juga concern dengan masalah privasi terkait serangan malware. Apalagi serangan itu meluncur dari webcam, dan masuk ke ruang keluarga. "Bisa dibayangkan webcam yang menyedot daya 5% dari komputer standby, bisa dengan mudah diintai dari jauh. Bukan tidak mungkin keluarga kita yang dipantau," tandas Andreas, mewanti-wanti.
4 Produk Teknologi Gagal di 2014 1.Amazon Fire Phone Amazon sempat bikin penasaran saat meluncurkan smartphone perdananya, Fire Phone. Soalnya mereka sudah sukses membuat tablet Kindle. Nyatanya ekpektasi tinggi itu tidak berujung pada kesuksesan di pasaran, Fire Phone tidak diminati dan akhirnya diobral. Fire Phone coba bikin diferensiasi. Di sekitar layar terdapat empat unit kamera menghadap depan. Empat kamera ini berfungsi membuat perspektif dinamis hingga melacak kepala pengguna. Misalnya ketika membuka fitur Maps dan mencari sebuah restoran, perspektif peta digital berubah setiap kali ponsel dimiringkan. Nyatanya Fire Phone tak laku karena susah digunakan. Hampir tak ada review yang bagus. Mayoritas memberikan rekomendasi satu bintang yang artinya, ponsel ini tidak layak dibeli. Para pengguna yang terlanjur membeli juga banyak yang beralih menggunakan ponsel lain. Saking nggak laku-laku dijual, raksasa e-commerce itu bahkan rela banting harga Fire Phone dari sekitar Rp 7-8 jutaan jadi 99 sen dolar atau Rp 10 ribuan. Kebijakan potong harga jadi 99 sen ini hanya berlaku bagi pengguna yang tetap mau mengambil paket bundling ekslusif dengan operator AT‎&T dengan kontrak dua tahun. Padahal sebelumnya, dengan sistem kontrak yang sama, Fire Phone versi 32 GB dijual dengan harga USD ‎199 dan yang versi 64 GB dibanderol USD 299. Sementara untuk paket tanpa kontrak, yang 32 GB dihargai USD 649 dan 64 GB seharga USD 749. 2. Google Glass Sempat bikin heboh, pamor kacamata pintar Google Glass malah meredup di tahun 2014 ini. Dimulai dari salah satu pendiri Google Sergey Bin yang mulai tak memakai Google Glass di acara-acara yang mendapatkan banyak sorotan. Lalu kemudian, pengembang aplikasi meninggalkan Google Glass. Menurut laporan, banyak developer dan pengguna awal Glass sudah mulai kehilangan minat untuk mengetes produk yang dibanderol USD 1.500 tersebut. Walaupun Google secara tegas mendorong Glass tetap hadir di pasaran. Bukti bahwa Google Glass kehilangan magisnya adalah 9 dari 16 developer yang mengembangkan aplikasi di kacamata pintar ini berhenti mengerjakan proyek tersebut. Dan sampai sekarang, Google Glass belum juga dikomersialkan secara luas. Meski begitu, Google tetap berusaha meyakinkan bahwa mereka masih berkomitmen mengembangkan gadget jenis baru itu. 3.Jam Tangan Pintar Para produsen elektronik ramai-ramai mengembangkan jam pintar dengan beragam kegunaan. Sebut saja Samsung, Apple, Sony, Asus dan lainnya. Tapi tampaknya, gadget jenis baru ini belum diminati masyarakat luas. Ya, tampaknya masih jarang orang yang memakai jam pintar dan menggunakannya tiap hari. Kalaupun ada masih sebatas untuk gaya-gayaan dan belum dioptimalkan fungsi sesungguhnya. Belum populernya jam pintar mungkin terkait beberapa faktor. Edukasi pasar yang belum maksimal, produsen yang masih coba-coba atau mungkin terkait dengan harga yang masih cukup mahal. Tapi barangkali memang saat ini baru tahap awal pengembangan jam pintar. Tahun depan bisa jadi perangkat ini akan melesat dan diminati banyak kalangan. Kita tunggu saja. 4. Swing Copters Fenomena Flappy Bird, game yang dikembangkan pria Vietnam bernama Dong Nguyen memang luar biasa. Meski grafisnya sederhana, Flappy Bird sukses membius pemainnya dan sempat memuncaki toko aplikasi di berbagai negara. Maka ketika sekitar pertengahan tahun ini Nguyen merilis game baru bernama Swing Copters, harapan tinggi pun dibebankan. Swing Copters yang punya formula sama dengan Flappy Bird diprediksi akan terbang tinggi. Tapi kenyataan berkata lain. Sempat populer pada awalnya, Swing Copters kini hampir tak terdengar lagi gaungnya. Ia juga tidak sampai melesat ke posisi top di toko aplikasi seperti App Store atau Play Store. Mungkin karena Swing Copters susah sekali dimainkan. Atau bisa saja pengguna sudah mulai bosan dengan game semacam ini.